Image Hosted by ImageShack.us



Friday, February 13, 2009
9 febuari jam 8 pagi

 
dark age...
 
 
terbangun lagi pagi-pagi..
saya merasa asing dengan kamar ini, seperti sedang menginap di rumah teman, terbangun lebih awal lalu kebingungan..

angin febuari yang angkuh dan menusuk, apa jam tubuh kembali berputar seperti febuari setaun sebelumnya?
saya tau ini pasti berlalu, namun harus melalui ritualnya sendiri..
akh, ritual yang tidak terlalu saya sukai--kalau tidak bisa dibilang sangat saya benci..
pikiran-pikiran bergelayutan, menjelang waktu tidur tiba, dan ketika pertama membuka mata..
melelahkan..

kakak bilang, 'i know u managed broken hearted better than me'..
i dont think i could agree. setidaknya untuk terapi saya mencoba menepikan beberapa pikiran, tiap mereka mau beritual di otak saya.
'nanti saja lah pikirkan itu' ucap saya pada mereka.
semua sudah jauh lebih baik. Saya tidak lagi mendengar suara mesin printer tengah malam, walau ia sedang dalam keadaan mati.. Tadi malam mimpi saya menembak orang dengan senapan, itu juga kemajuan, saya pikir. Bukan mimpi ketinggalan kapal, atau berjalan di kota mati, atau berjalan telanjang.

saya tidak mau merusak kesenangan papa,
saya berusaha keras, agar dia tau saya baik-baik saja.

saya juga tidak ingin menambahkan beban di pundak yang lain,
dengan membahas lagi-dan lagi tentang ini,

saya lalu senang sekali memikirkan sebuah kalimat penenang,
setelah ini semua berlalu,....
tapi 'ini' itu apa...
apa ada yang pernah tau...
saya tidak berharap mereka tau, apalagi mengerti
ini.. bukan ttg satu hari,
ini..bukan tentang "buat-kumpulkan-dapat nilai, kenapa dibesar2kan"
ini.. tentang proses..
ini..tentang pilihan sulit
ini..tentang menyadari saya butuh orang lain
ini..tentang harapan..
tentang kecewa..

saatnya memutar 'club 8' di playlist saya..
saya mau mencoba kembali ke balik selimut..

Posted at 01:17 pm by natanatanata
Comments (3)  

Friday, January 23, 2009
.........

 
"tell me
 
i'm not dreaming.
 
but aren't we
 
out of time.." blur
 
 
 
Keluar dari zona nyaman, sesuatu yang --untuk saya pribadi--kadang menakutkan. Tapi tentunya harus dilakukan, karena hidup bergerak, manusia yang menggerakkannya.

Beberapa kali saya melamun waktu dengar lagu 'out of time' nya Blur. Terpikir tentang bagaimana harusnya bersikap ketika ada dalam fase itu.. when we're out of time, ketika kita hampir ada di saat akhir menuju titik perpindahan tempat (waktu kelas tiga smp pada mata pelajaran fisika, pengertian GERAK adalah berpindah tempat dari satu titik ke titik lain.)

Ada dua kontradiksi ketika ada di sana.. Pertama, perasaan hilarious untuk melangkah dan mengerjakan sesuatu yang akan berlanjut hingga di titik baru. Kedua, perasaan gelisah, sentimental, dan tetek bengeknya, untuk keluar dari titik lama yang sudah menciptakan .zona nyaman
zona nyaman? (merasa kata ini familiar dengan anda?haha)

Dulu sekali, ada seseorang meninggalkan saya dengan alasan, takut merasa nyaman. Bersama saya, menurutnya, dia terlena dalam rasa nyaman---dalam zona nyaman--dan dia mengidentikkan rasa nyaman dengan kemapanan yang berakibat buruk pada proses berpikir. Dia harus melanjutkan hidup, berkreasi, begitu ucapnya. Sepertinya hal tersebut tidak bisa sejalan dengan kenyamanan.

Saya pikir tidak ada yang salah dengan konsep zona nyaman. Tapi ada kesalahan besar pada konsep 'terlena dalam zona nyaman' .. dan untuk tidak terlena dalam zona nyaman, memang kadang sulit. namanya saja 'nyaman'. dan sesuatu yang nyaman itu melenakan.

Saya pikir, untuk membangun zona nyaman dalam hidupnya masing2, adalah khas manusia, manusiawi, natural. entah bagaimana lagi harus saya deskripsikan. Namun benar, ada saatnya, di mana kita harus berpindah titik, untuk bisa tetap hidup, untuk bisa tetap bermakna---tetap bisa berpikir yang menghasilkan makna. dan ketika titik baru itu ada di luar zona nyaman kita, maka, mau tidak mau, kita harus keluar dari sana.

Ada beberapa indikasi yang terasa ketika zona lama kita bukan lagi titik berpijak yang tepat untuk kita. Bebrapa yang paling kentara adalah, mulai datangnya situasi2 yang membuat kita merasa 'out of circle' .. atau kadang rasa 'being left behind''being run out of time' . Setidaknya begitu yang saya simpulkan setelah berbagi dengan seorang kawan lama beberapa hari lalu.

Saat itu kampus sedang sepi seperti kuburan. Tapi pada layar terdeteksi tanda-tanda ketegangan dari arah jurusan saya. Orang-orang sedang berjalan tergesa (mirip hari deadline sahala dulu), membawa kotak-kotak kardus, tempat menyimpan draft rangkap 6 untuk diserahkan ke jurusan. Ya saatnya memang sudah tiba...

Saya dan kawan saya, lalu bicara soal zona nyaman. soal rasa 'out of circle'. soal rasa 'sudah waktunya pergi'. Lalu saya tanya soal tabel target hidup yang dahulu pernah dia ceritakan pada saya di sela-sela waktu kuliah. Tabel itu dibuat ayah kawan saya itu beberapa tahun lalu. Di dalamnya ada tahun target lulus, target menikah, dan lain-lain, ditanda tangan oleh keduanya, lantas mereka berjabat tangan. Luar biasa ayahnya itu. Lalu saya tanya, kapan target yg dia janjikan pada tabel itu untuk lulus kuliah.
"2009, nat.." ujarnya sabil sedikit meringis, entah mengapa.
Kemudian dia melamun, saya juga..

"ah teuing, ah nat.. naha urang jadi ngobrol absurd kieu, ngobrol sama lu mah," katanya mengakhiri obrolan sambil tertawa..masih meringis sedikit.. ... atau kadang rasa

Posted at 02:46 pm by natanatanata
Make a comment  

Saturday, December 06, 2008
Saya dan Anjing..

Langit mulai mendung, saya berdiri di tepi kusen jendela kamar menatap jauh ke seberang. Si anjing cokelat terlihat kebosanan. Saya mencoba jikalau telepati itu benar ada, memanggil-manggil dia, walau saya tau itu sebuah perbuatan sia-sia. Kami dipisahkan dua ruas jalan--arah ke kanan dan ke kiri, dan kami sama-sama dibalik terali.


Temannya yang sama-sama anjing dibawa pergi entah kemana oleh sang pemilik--seorang polisi satpol pp setengah baya yang kisah rumah tangganya lebih dramatik dibandingkan sinetron-sinetron tanah air saat ini. Intinya si anjing berbulu cokelat itu kini sendiri saja.


Sore tadi saya bilang pada ibu saya, sepertinya si anjing tetangga seberang rumah itu sedang bosan. "Sedang bosan--sama seperti saya", dalam hati saja kalimat yang belakangan saya batinkan. Ibu lalu bilang, tempo hari si anjing mendapati pagar terbuka, dia lalu kabur, sampai-sampai pak polisi kebingungan putar-putar komplek naik mobil untuk mencarinya.


Ah, ya, dia sudah pasti kebosanan seperti saya. Apalagi kadang saya pikir keadaannya lebih tidak menguntungkan dibanding saya. Saat-saat ketika si majikan perempuan sedang memulai adegan kecemburuan pada sang suami yang katanya berselingkuh dengan penyanyi dangdut, dan kemudian melemparkan berbagai barang yang lantas berterbangan, sampai sang suami bergegas membanting pagar dan naik ke mobil jeepnya.Kadang dia mengajak si anjing turut serta, kadang tak sempat pula.


Saya, sudah pasti lebih beruntung dari si anjing. Hanya besi-besi terali dan pagar saja yang menjadi kesamaan kami. Mungkin kalau saja kami bisa berbincang-bincang, akan lebih baik jadinya. Kami bisa memulai obrolan-obrolan tentang kebosanan di sebuah sudut kota bandung bernama sarijadi..

Posted at 09:41 pm by natanatanata
Make a comment  

After Awhile..

After Awhile

Bulan April, jaring terakhir dirajut.
Hari ini adalah akhir pekan pertama bulan Desember..
Delapan bulan saya tidak berbagi di pukat ini? Alasannya tidak melulu karena saya pilih kasih pada sebuah pukat baru, aletheia.blog.com , tapi juga karena--alasan klise--banyak ide, cerita, sensasi, yang harus menguap, lepas, terlupa sebelum sempat tertangkap, tersimpan, tercatat..
Well what can i say?.. What can i do to pay it then?
Berbagi playlist barangkali? What have been played mostly..during those time..
Beberapa yang mungkin asing di telinga, apa perlu saya cuplikkan liriknya?..

Setelah Maret April Mei yang dipenuhi dengan Pure Saturday dan Pure Saturday lagi, Sore, The Millo, Sigur ros serta berbagai folder band shoegaze kesayangan, akhirnya saya pun sembuh..hehe

playlist windows media player berikutnya, jadi lebih 'berwarna' atau bertabur bunga lebih tepatnya..haha..dan sebagian, telah mencengangkan kawan-kawan saya...

ivy-kite

Don't let them shoot my kite.. Out of the sky
Oh, oh mother dear
Don't let them shoot my kite down

float-stupido ritmo

You and I painting rainbows when no rain falls on our wall..Smelling raindrops on a hilltop as they fall..You and I laughing loudly with no reasons in our walk..Chasing sunsets, dancing minuet in the dark..


lobow-kau cantik hari ini


club8-holiday

spending sundays in your apartment
is like a holiday for me
you drink water
i drink wine
that suits me fine

i need a drink
i need some company
i need someone
to share my life with


duran-duran- perfect day

Just a perfect day,
drank Sangria in the park
And later, when it gets dark
we go home..

Just a perfect day,
feed animals in the zoo
and later, a movie too
and then home..

It's such a perfect day
I'm glad I spent it with you
Such a perfect day
You Just keep me hanging on
You Just keep me hanging on

Just a perfect day,
problems all left alone
Weekenders on our own,
Such fun..

Just a perfect day,
You made me forget myself
I thought I was someone else
Someone new..

It's such a perfect day
I'm glad I spent it with you
Such a perfect day
You just keep me hanging on
You just keep me hanging on

you're gonna reap just what you sow


slank-kirim aku bunga

aku baik saja sendiri,
sibukan diri dan slalu menanti kau kembali..
lupakanlah diriku tuk sementara
jangan terlalu pikirkan langkahku
lakukan yang kau suka biar kau bahagia
dan percayalah..di mimpiku ada mimpimu


peter bjorn and john-young folks

and we don't care about the young folks, talkin bout the young style...and we don't care about the old folks, talkin bout the old style too.. and we don't care about our own faults, talkin bout our own style..
all we care about is talking, talking only me and you..


blur-u're so great

And I feel the light,
In the night and in the day..
And I feel the light,
When the skies just mud and grey..
And I feel the light,
When you tell me its ok..
Cos youre so great, and I love you..


pelle carlberg-i love u, u imbicile

I love the way you talk
I love the way you stalk
me with your mobile phone
I love the way you smile
The way you're juvenile
I love the way you moan

I love the way you dress
the way you make a mess
and that you're always late
I love the way you smell
and I can always tell
when you exaggerate

I can live with vanity and puns
and the morning temper runs
I can live with all your downsides
I can live with you

All I want, all I need
All I want is you
I can live with all the stupid things you do

the smashing pumpkins-the boy

i can't stop, i can't breathe, i can't think
i'm in love again..
i don't need, i don't eat, i don't sleep
i'm in love again..


iga mawarni-ngomong-ngmong soal cinta

bunga-kasih

kukecup lembut bibirmu.. kusayang padamu..


naif-senang bersamamu

saat senja berlalu
kucari dirimu
karena kuselalu
senang bersamamu

hingga pagi pun mau
bila oh denganmu
karena kuselalu
senang bersamamu


bjork-hypperballad

I go through all this
Before you wake up
So I can feel happier
To be safe up here with you..

disney -lion king- the lion sleeps tonite

in the jungle..the mighty jugle the lion sleeps tonite..

 

the brandals-24'00 lewat

sekali lagi kau buat tidurku tak nyenyak
bertahun lagi lampu angkasa mimpiku bergoak
ow aku tau tau di mana lantai dansa kan terinjak
ow aku tau ke mana kita bisa teriaaak

oh sayang, jangan bikin aku down down down
oh terus sayang jangan bikin aku jadi down down down
oh terus sayang coba jangan bikin aku jadi down down down

plastic operator-home0207

I dont know when i'll be coming home, cos you dont have the time..


the archies-sugar honey honey

Sugar, ow honey honey...

suede-lazy

but you and me, all we want to be is lazy,
you and me, so lazy...

travis-flowers in the window

When I first held you I was cold
A melting snowman I was told
But there was no-one there to hold before
I swore that I would be alone for ever more

But Wow look at you now
Flowers in the window
It's such a lovely day
And I'm glad you feel the same
Cause to stand up, out in the crowd
You are one in a million
And I love you so
Lets watch the flowers grow

There is no reason to feel bad
But there are many seasons to feel glad, sad, mad
It's just a bunch of feelings that we have to hold
But I am here to help you with the load

So now we're here and now is fine
So far away from there and there is time, time, time
To plant new seeds and watch them grow
So there'll be flowers in the window when we go

Wow look at us now
Flowers in the window
It's such a lovely day
And I'm glad you feel the same
Cause to stand up, out in the crowd
You are one in a million,
And I love you so
Let's watch the flowers grow..


 

 a notes on 16 november,

After awhile.. i almost forget how amazing it was, how we met each other..

 

The rainy season had just ended, the skies was got cured quite well, but i was not really yet..

I had just crashed and smashed quite hard.. broken hearted girl.. And there he was, out of nowhere showed, broken legged boy..

Today, i'm still thinking.. miracle only exist when it's shared.. happiness only real when it's spent together.. like what he told me once..

being together sometimes hard.. the possibility to understand a person—another individual—human—creature—who has its own character, habitual, etc—is really almost impossible.

understanding maybe is impossible to do, but accepting is the solution.. Accepting that they are is like what they are.. 

 

 


petang itu ayah

tidak lagi

 takut hujan..

seekor capung menempel di kaca jendela bis AC yang saya tumpangi malam itu. dua dari empat helai sayapnya lekat dilumuri bulir air hujan yang mengalir susul menyusul di permukaan kaca.

ada sensasi tertentu waktu naik bis AC lagi, ntah kapan terakhir kali harus duduk di bis sambil bertarung melawan teknologi penyegar udara yang seringnya malah membuat kepala saya tidak segar itu. saya salah seorang manusia yang tidak akur dengan teknologi bernama air condotioner.

tapi sensasi petang menuju malam kali itu bukanlah sensasi perlawanan terhadap si alat berteknologi canggih. melainkan sebuah perasaan menyenangkan yang mungkin tersari dari berbagai ingatan di masa lampau ketika naik bis AC. perjuangan-perjuangan empat tahun melintas kota setiap hari. ah dulu tubuh ini kuat sekali, tersadr bahwa umur mungkin salah satu faktor mengapa kali ini saya harus duduk dengan leher terbalut syal dan lutut yang terasa ngilu-ngilu.

hari ini saya tidak punya bunga untuk diselipkan di telapak tangan kamu, sebagai pengganti saya yang sudah harus pulang ke kota saya lagi. tapi sepotong percakapan kita sebelum kamu pergi tidur ketika bis saya mulai bergerak itu, cukup menenangkan saya--walau saya tak sempat petikkan kamu setangkai bunga--bunga pukul empat yang warna ungu atau putih atau bahkan bunga jadi-jadian peneman ilalang.

malam itu si bis AC berputar-putar tak tentu arah, atau memang karena saya sudah terlampau pikun untuk mengingat rute kendaraan yang sudah lama tak saya naiki itu. setelah memilih cabang ke kiri dari cibiru, saya sedikit lebih tenang. lewat soekarno hatta pastinya akan lebih lancar ketimbang ujung berung. tapi di tengah jalan dia isi bensin di sisi jalan yang berlawanan, lalu setelah selesai bukannya memutar balik, dia malah belok ke jalan kecil. lama berjalan, gelap dan suram di kedua sisi, saya tak kenal nama jalan. sialnya tepat dering telepon genggam saya buyarkan lamunan. ayah saya tanya saya sudah sampai mana. ha, asal sebut saya bilang antapani (padahal maksud saya arcamanik). bis keluar di daerah sebelum sukamiskin, dan masih harus menyusur ujung berung..huh saya tidak suka rute ujung berung.

hari itu ayahku tercinta sudah tidak mau berspekulasi lagi. hari sebelumnya ayah ibu ditambah adikku yang menyebalkan berramai-ramai menjemput, takut hujan akan membuat kami terserang flu tambah parah. tapi ternyata hujan tidak turun waktu itu. maka hari ini ayah nekat naik motor saja jemput saya. dia bawakan jaket biru dengan dua garis putih di lengan kiri dan kantung keresek untuk tas saya. sangat khas dia--penuh persiapan.

air mengalir membasahi jaket jaket kami. di atas jalan layang dia sempat bilang, "kalau licin begini jalannya pelan saja ya."  saya hanya bergumam mengiyakan. sambil bertanya-tanya kenapa dia tampak tidak terganggu kali ini oleh hujan. apakah ayah sudah berhenti takut pada hujan?

4 November 2008

Posted at 09:07 pm by natanatanata
Make a comment  

Thursday, April 17, 2008
Langit

 Langit Sudah Sembuh Benar?

 

 

 

Beberapa waktu yang lalu selama berhari hari terus kukeluhkan ketusnya langit dan agresifnya angin di kotaku yang saat itu kupikir entah kapan berakhirnya. Seperti biasa aku lantas menuduh langit sudah ikut-ikutan berkomplot merayakan warna dan rasa serupa yang sedang kurasa. Berhari-hari kemudian aku hanya meminta cahaya. Rasanya kalau matahari benar-benar unjuk diri esok hari, semuanya akan lebih baik.

 

 

Entah kapan terakhir kali aku menikmati musim hujan. Memang pernah rasanya di waktu yang sangat lampau aku menikmati titik-titik air jatuh—bahkan ketika menimpa tubuh. Tapi entah kapan itu. Aku sudah tidak bisa mengingatnya lagi.

 

 

"Saya cuma pengen musim hujannya berhenti, kang" ujarku pada seorang wartawan yang juga seorang senior se-almamater yang ternyata juga mantan seorang aktivis. Orang yang ternyata banyak mengejutkan, entah pula kenapa aku melontarkan kalimat itu kepadanya pada suatu hari hujan. Dia bilang aku harus mencoba berdamai dengan hujan. Ya ya..kalau saja aku bisa, berdamai dengan hujan dan langit dan komplotan awan yang mencurigakan itu.

 

 

Terakhir yang aku ingat hujan ini meresahkan. Warna langit ini memaksaku merasakan semburat rasa aneh. Entah pula apa namanya. Pastinya bukan kata-kata sesanak saudara dengan 'nyaman', 'menyenangkan' atau saudara-saudaranya yang lain. Lalu beberapa hari ini, matahari benar-benar mulai datang. Kadang beberapa jam saja. Kadang cukup lama juga. Tapi kadang matahari dan hujan datang seiris selapis, rapat hitungan menit. Langit masih plin plan. Langit belum sembuh benar.

 

 

Sore tadi matahari cantik sekali. Sudah lama tidak begini. Seperti yang kukira sebelumnya, rasanya nikmat. Nikmat seperti ketika jatuh cinta pada cokelat belasan tahun lalu. Dan jatuh hati pada kopi hampir sepuluh tahun yang lalu. Mirip pula dengan nikmat ketika mendapat izin untuk berangkat ke makrab di rumah si yoga kemarin. (Maklum lah tawanan rumah sejak lahir).

 

Ah, senangnya bisa pergi menemui kawan-kawanku itu. Aku kangen mereka semua. Entah kenapa. Hebat juga bikin acara makrab lagi, mendahului makrabnya anak 06 pula hahaha. Malam malam aku coba pilih kata pertama untuk puisi yang dipesan Ocha. Untuk dibaca waktu acara malam harinya nat, kata dia. Ah otakku sudah lama tak bermain dengan kata. Sejak terakhir kali 'kata kata' mengingatkanku pada seseorang yang hebat sekali bermain kata, aku jadi benci bermain kata. Tapi malam itu mau tidak mau aku harus.Aku buka milis 04, postingan dari ganjar, selamat makrab katanya. Tak lama, ingatan tentang mereka semua berkelebatan di benakku.

 

 

Aku sebenarnya tak ingat,

sejak kapan kita duduk bahu menempel bahu?

melangkah iring beriring, berhimpun menjadi satu?

yang aku tau, setiap cangkir kopi dan tawa- tawa kita,

siang dan sore sore itu pun menjadi sempurna..

 

Lalu kita bercerita,

ya ya..cerita kita,

 

kau ingat, waktu dia bercerita tentang perjuangan melawan kantuk

menjelang malam yang hampir surut,

mengetik huruf huruf sambil merutuk

datang ke kampus berlari kalut,

kantung mata kian menghitam, belum tidur dari semalam

 

tapi itu tak jadi soal,

karena tawa kita buyarkan kelam

suapi lagi diri dengan tenaga,

untuk kemudian menguap lagi menjadi tawa

 

 

lalu, apa kau ingat, ceritamu tentang si pujaan hati..

yang membuatmu menari nari, dan gigimu kering berseri-seri

 

hhmff...jiwa muda dimabuk cinta

 

atau bahkan ketika kau patah hati

 

hati membiru, jiwa kelabu

tapi itu akan berlalu,

 

karena tawa kita keringkan luka

suapi lagi diri dengan tenaga,

untuk kemudian menguap menjadi tawa

 

lain waktu cerita kita tentang bangsat-bangsat di luar sana

umpatan-umpatan kita terhadap dunia

yang halangi slangkah mendekat pada mimpi mimpi kita

 

kita bicara obrolan kelas pemikir dunia

jiwa muda tak pernah salah, tak pernah kalah..

sampai akhirnya kita tertawa lagi

menyadari sombongnya diri

 

 atau kadang kita bicara tentang apa saja,

hanya cerita remah remah yang lengkapi hari..

cerita-cerita kita

kau belum lupa kan?

 

kau tau, beberapa waktu lalu aku rindu pada kalian

kurasa mendadak keriput dan rambut beranak uban

tapi hari ini kita duduk di sini..

aku.. kamu.. kita semua..

 

bung ganjar bilang,

kerinduan hanya romantisme belaka..

 

ya,..nanti, lima, sepuluh taun lagi

mungkin hidup buat kita terpencar terbagi

tapi hari ini kita duduk di sini..

aku.. kamu.. kita semua..

 

nanti, lima, sepuluh taun lagi kawan..

aku bukan hanya akan rindu kalian..

aku akan ingat cerita kita ketika duduk bahu menempel bahu

aku akan ingat semua hari hari itu..

aku akan ingat hari ini.. aku.. kamu.. kita semua

 

 

Malam itu langit bersih ijinkan bintang-bintang tertangkap mata. Hujan sudah berhenti sedari petang. Di atas tanah halaman rumah yoga malam itu aku menelentangkan tubuh, untuk pertama kalinya menyadari langit adalah tontonan paling menarik tak membosankan.

 

 

Langit memang belum sembuh benar. Besok mungkin hujan masih akan turun. Besok mungkin matahari muncul lapis berlapis dengan adonan abu abu. Tapi aku tak kan terganggu lagi. Air cukup mengalir. Dan mendung cukup menggantung. Tapi resah itu tak kan ada lagi..

 

Terbawa angin dan menghilang..

 

Biarkan saja.. menghilang (pure saturday)

 

 

Posted at 05:08 pm by natanatanata
Comments (3)  

Saturday, April 12, 2008
kumpulan

kumpulan

Ternyata ada beberapa tulisan yang teronggok terlupa..

Mungkin sekarang saja mereka berkumpul di satu posting.. tentunya mereka adalah tulisan-tulisan dari waktu yg berlainan, dan tentunya atmosfer dan mood yang berlainan pula..

Tak adil rasanya menganak tirikan tulisan-tulisan sendiri, walau yang tulisan paling tolol sekalipun berhak untuk lahir juga, gimanapun anak2ku punya hak yang sama di pukat ini..hehehehe

so here they are..

 

Dont Wanna Grow Up?

Suatu hari saya bertemu seorang anak lelaki yang lucu sekali di foodcourt salah satu mall di Bandung. Ken namanya. Dia duduk tepat di belakang saya. Dan karena saya memilih duduk di bangku memanjang—yang saling berdempetan dengan bangku yang berada di belakangnya (bukan bangku satuan), maka Ken berada begitu dekat di belakang saya. Kami saling membelakangi. Awalnya saya tidak sadar, tapi dengan beberapa kali lirikan saya ngeh juga bahwa ada makhluk lucu di belakang saya. Saya lihat sepintas dia begitu cerah dibalut seragam berrompi.

Setengah berbisik saya berkata pada teman-teman saya, "lucu banget..". Dan mereka pun akhirnya ikut menoleh. Salah satu teman saya akhirnya menyapa anak laki-laki itu. Sedangkan saya hanya bisa terdiam memandanginya. (I was never really been good with kid before..)
"Ken umurnya berapa?," teman saya sok ramah padanya. "Empat." jawabnya singkat. "TK nol besar atau kecil?" ujar teman saya lagi. "Kecil." masih dengan singkat jawaban meluncur dari bibir merah dan pipi tembamnya.

Dan yah, ini kali ke dua saya benar-benar terpesona pada anak kecil (yang pertama kali adalah pada keponakan saya, Amadita). Saya ingat dulu saya bahkan sedikit takut dengan anak-anak. Kenapa? Karena mereka selalu tampak tertarik mendekati saya, sedangkan saya tidak pernah tau benar apa yang harus saya lakukan dalam menghadapi anak kecil. It was really scary to get along with them back then. Saya bahkan ingat saya sampat memasang gambar bayi yang saya ambil dari majalah, di pintu kamar saya, sekadar terapi agar saya tidak takut lagi malihat bayi atau anak kecil.

Well, people change.. Beberapa kali saya dekat dengan pria yang suka anak kecil, dan itu selalu membuat saya amaze sekaligus terheran-heran. Mengapa saya tidak bisa seperti mereka.Baru ketika Amadita lahir lah saya mulai bisa berkomunikasi dengan anak kecil, itu pun dengan cara ngobrol selayaknya dengan teman, dan tentunya dia saya biarkan memanggil nama saya tanpa embel-embel tante atau sebutan lainnya.
                                                            

                                                   ***
Masih di hari yang sama saya pergi ke wilayah jalan merdeka yang berpotongan dengan jalan lembong—daerah jajahan saya ketika SD, karena sekolah saya berada tepat di jalan itu di samping rel kereta dan di seberang Hotel Panghegar. Dan pikiran saya pun mengembara ke masa itu. Being a kid. That was pretty hard i thought. But it was not really that hard if i think now. It was fun actually. Saya bisa berpikir tentang banyak-banyak-banyak hal dulu.

Walaupun saya adalah anak kecil yang cukup individualis, tapi i was happy i think. Justru karena saya dulu se-indiv itu saya punya banyak wkatu dan ruang untuk hidup dalam pikiran saya sendiri, dan memang banyak sekali hal yang ada di kepala saya ketika itu. Kadang saya yang sekarang iri sekali pada saya yang ada di masa itu. Kemana hilangnya semua fantasi-fantasi liar saya yang sejujurnya dapat membuat saya merasa sangat hidup.

Saya tidak pernah mengeluh dengan sekat-sekat yang membatasi. Saya tetap bisa hidup sebagai jiwa yang bebas dan ide ide menyenangkan selalu mampir di kepala saya. Sejak kapan ide-ide itu mati, berganti dengan hal-hal konkret—agenda-agenda nyata—dan  hidup penuh taggung jawab selayaknya orang dewasa.

Ya. Dewasa. Akhh kadang saya benci sekali kata itu.

Beberapa minggu lalu saya membaca majalah jeune edisi terbaru—childhood issue—tema yang disusungnya 'never wanna grow up', sontak saya terduduk tegak, "Hey, that was my issue.."..  Yah mungkin memang bukan saya sendiri yang memikirkan tentang isu itu. Tapi beberapa tahun ke belakang itulah isu yang saya usung, 'dont wanna grow up', (sejak sma malah kalau saya tidak salah saya selalu menuliskan tagline itu).

Tapi, ya sekali lagi saya berpikir (sebenarnya diingatkan oleh teman saya, Indri) bahwa bukan hanya saya yang punya ide tentang isu tersebut dalam benak. Ya ya.. mungkin memang begitu. Yang pasti sore itu pikiran-pikiran lama saya mengenai isu itu bangkit kembali. Dengan sedikit resah saya menekuri majalah di hadapan saya, membolak-balik halamannya secara acak tanpa benar-benar konsentrasi membaca artikelnya. Sibuk dengan pikiran saya sendiri yang menyedot saya jauh dari kfc Superindo jalan dago—tempat di mana saya duduk sore itu.

Dan pikiran itu masih terus berlanjut sampai saat ini. Arahnya semakin jelas. Pada awalnya statement 'dont wanna grow up' muncul sebagai imbas kekecewaan kita sebagai orang dewasa. Hey, being an adult is scary sometimes. When we grow up we have to deal with life. And life is a big deal, really. Saya bahkan selalu melanjutkan statement 'dont wanna grow up' itu dengan kalimat, 'when we grow up, we lose the stars in our eyes' (saya bahkan membuat poster bertuliskan tagline tersebut dengan gambar foto saya yang sedang berulang tahun ketiga tahun, lengkap dengan kacamata berbentuk bintang favorit saya dulu).

Ha ha ha, mungkin itu terlalu sinical. Tapi yang saya maksudkan adalah, kita, orang-orang dewasa, kadang terlalu sibuk dengan hidup kita sebagai adult, sibuk sesibuk-sibuknya sampai kadang sparkling-sparkling dalam mata kita hilang entah kemana. Kemana semua keantusiassan kita sebagai anak kecil yang terpancar lewat sorotan mata yang begitu cerah dan berbinar?

Kita—yang katanya orang dewasa—mulai kenal dengan kata-kata semisal rutinitas, tugas—dan beribu hal renik yang menyertainya—yang seringkali berujung pada satu kata, absurditas. Bagaimana cara saya memaknai semua ini ketika saya kecil? terus terang saya bahkan tak ingat lagi. Yang pasti semuanya tampak bermakna, cukup dalam sepertinya, karena saya masih bisa mengingatnya hingga kini. Hal-hal mengesalkan, menyedihkan, membahagiakan—semuanya begitu menggairahkan bagi saya si anak kecil yang sedang mengenal dunia. Saya rindu gairah semacam itu setiap bangun tidur di pagi hari. Saya lupa rasanya.

Satu hal lagi yang sangat menyenangkan dari being a kid adalah, perasaan-perasaan bahwa seluruh dunia sedang memperhatikan kita. Ya ya.. egosentris yang luar biasa itu tampak sah-sah saja dulu. Tatapan mata semacam itu juga yang saya temukan dalam mata si Ken yang tampak senyum-senyum malu campur puas melihat kami begitu jatuh hati padanya.

Oh being a kid is fun, indeed...

Tapi kita dapat terus terlena dengan statement-statement 'don't wanna grow up'.
Karena nyatanya, People grow up. New things come. Life's keeps on turning. That's how it work out.

Satu hal yang lahir sebagai konotasi dari kalimat 'don't wanna grow up' ini yang saya amini. Mari kembali temukan childhood spirit.. keantusiassan seorang anak dengan sorotan mata yang begitu cerah dan berbinar.. tak kenal rasa takut.. gairah yang luar biasa atas hidup..

 

 


Writing On a Bus

Adakah pekerjaan yang lebih menyenangkan dari menulis? I've found that talking was also fun. But actually, writing is better. It's more honest than talking..

Yah sebagian kegiatan menulis memang kadang disisipi rekayasa. Tapi dalam penulisan sesuatu yang personal semisal jurnal pribadi, who's the nuts who could lie to their own diary??

And u know the best part of writing diaries? U could do it while u do something that u write about.. hehe.. u got what i mean?

Like now, i write some stuff while im on a bus.. And u see, being on a bus is one of my favourite things. The reason? Hmm.. i always forget to list them down the paper.. But i remember for sure, when im telling myself that i really really enjoy the feeling when im on a bus..

Hmm.. i mean.. sitting on a big higher wheel, with a wide window that has a function almost like a screen.. I mean, u could really see anything through it. It's like a big-tv-show-on screen

It also the one who see me in every kinda shape and mood.. It saw my tears couple times (even my best havent got that count). It also saw me in hilarious breath. My fears when im out of time. My nervous, while im reading some stuff for the test. My story-telling, when i do some chat with friends on a bus..

The windows on a bus the one who knew me very well better than anyone else in the last 4 years..

it's kinda weird to realise this..Hmmm

 

 


Wanita Dijajah Pria Hingga Kini?

Diciptakan alam pria dan wanita
Dua makhluk daya asuhan dewata
Ditakdirkan bahwa pria berkuasa
   Adapun wanita lemah lembut manja
   Wanita dijajah pria sejak dulu
   Dijadikan perhiasan sangkar madu
.........

Perempuan dan laki-laki, secara sederhana tampak sekadar klasifikasi gender, identitas seksual, atau bahasa paling awamnya—jenis  kelamin. Tapi merunut dua sampai tiga puluh tahun terakhir, isu tentang gender semakin hangat saja ke permukaan. Wacana-wacana tentang emansipasi perempuan, kesetaraan gender sampai pro-kontra gerakan feminisme tampaknya sudah menjadi isu sosial yang terus berkembang. Masalah gender tidak lagi begerak di dimensi fisik, tapi menjadi sesuatu yang lebih mendalam.

Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa perempuan tampak terus saja merengek-rengek minta sedikit perhatian dari dunia? Perhatian untuk dihargai hak-haknya sebagai manusia—sama dengan laki-laki. Perhatian untuk tidak dipandang sebelah mata atau dianggap manusia "kelas dua"—setingkat di bawah laki-laki. Mengapa tuntutan-tuntutan semacam ini terus saja berkumandang? Karena pada kenyataannya keberadaan perempuan sering kali termarjinalkan dalam berbagai dimensi dan bidang di kehidupan sehari-hari.

Konstruksi masyarakat menyebabkan posisi sebagai pihak-yang-termarjinalkan ini sulit dikoreksi. Usaha-usaha koreksi terhadap segala ketidakadilan terhadap perempuan sering dianggap sebagai gerakan feminisme yang berlebihan. Perempuan sering dianggap ingin disamakan dengan laki-laki, dan ide ini sering diasumsikan bulat-bulat secara denotatif. Lalu diprotes keras dengan alasan, perempuan dan laki-laki tidak akan pernah sama.

Tentu saja semua orang yang berpikir secara rasional tahu hal itu adalah benar—perempuan memang tidak sama dengan laki-laki, dan tidak akan pernah. Tapi yang kita bicarakan di sini adalah, sama—dalam arti mendapatkan kesetaraan dalam hak-hak mendasar sebagai seorang manusia, lepas dari berbagai dogma, stereotipe, dan konstruksi sosial yang membatasi pengembangan potensi seorang perempuan.

Memang benar sejarah pergerakan perempuan sudah kian berkembang. Sudah banyak kemajuan dan pengakuan-pengakuan atas potensi perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Di masyarakat modern, termasuk di Indonesia, perempuan sudah mulai diperhitungkan dalam kancah persaingan dan pencapaian prestasi, baik yang berkaitan dengan intelegensia maupun kekuatan dan keterampilan fisik.

Tapi mari lihat lebih cermat! Perempuan ternyata harus melakukan semua itu sambil terus mengemban peran sebagai pihak yang termarjinalkan yang tadi saya sebutkan. Dogma-dogma tak pernah berhenti. Konstruksi masyarakat yang sudah begitu pakem dan terlembaga menjadi sebuah adat, membuat permohonan atas sebuah keadilan ini tampak semakin sulit saja. Bahkan saya menjadi sangsi, apakah benar kita telah bergerak jauh dari Kartini seratus sekian tahun lalu?

Mari kita mulai dengan melihat perlakuan-perlakuan terhadap wanita dalam skala yang paling sederhana yang sering kita jumpai sehari-hari. Seorang perempuan tidak dapat berjalan-jalan pada malam hari seleluasa laki-laki. Walaupun mungkin ia memiliki kepentingan yang sama pentingnya dengan laki-laki, seorang perempuan tidak dapat keluar seorang diri pada malam hari tanpa merasa was-was atau khawatir akan konotasi negatif tertentu dari masyarakat sekitar yang kadang muncul berlebihan.

Hal ini tampak sangat remeh. Tapi kebebasan untuk 'bergerak' adalah hal yang sangat mendasar. Jika hanya untuk keluar di malam hari saja perempuan harus menghadapi konstruksi adat, pelabelan, dan hal-hal dogmatis lainnya, maka bagaimana perempuan bisa leluasa melakukan segala sesuatu yang ia perlukan untuk maju. Sebuah hak atas kebebasan yang paling sederhana sudah terlanggar di sini.

Belum lagi segala sikap peremehan yang sering kali diterima perempuan ketika menyangkut profesi. Sekali lagi perempuan perlu usaha ekstra untuk membuktikan diri. Setelah mendapatkan posisi dan prestasi yang baik pun, perempuan masih harus dihadapkan dengan peremehan berikutnya yaitu kesangsian atas prestasi yang mereka buat—apakah benar-benar prestasi murni atau dengan bantuan "pesona wanita". Sebuah pemahaman keliru tentang konsep seorang perempuan. Seperti lirik sebuah lagu lama, "..Adapun wanita lemah lembut manja.."

Pada tingkat yang lebih parah adalah pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan yang merupakan imbas dari satu lagi pemahaman keliru atas konsep kodrat perempuan—makhluk lemah tak berdaya. Seperti dua hari yang lalu, ketika saya sedang berpikir untuk mulai membuat tulisan ini, di acara berita pagi saya mendengar, "Di Banjarmasin, seorang suami menyiram wajah istrinya denagn air panas...".

Berkali-kali kita dengar kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang diakibatkan seorang suami yang berasumsi memiliki penguasaan atas diri sang istri. Seorang istri sering kali diremehkan dan dianggap setingkat di bawah suami karena alasan finansial—karena istri yang tidak bekerja dianggap tidak memiliki hak apa-apa, bahkan dianggap milik suaminya. Lebih buruk lagi, menurut data sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Perempuan, sebagian besar perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga tidak berani—atau bahkan merasa tidak pantas—melaporkan suaminya. Sebagian besar karena alasan keuangan.
 Ini mengerikan. Ini menjadi semakin klise.

Hal-hal semacam ini—kekerasan terhadap perempuan semacam ini—adalah hal-hal mengerikan yang menjadi semakin mengerikan karena mulai dianggap klise. Konstruksi macam apa yang dimiliki bangsa ini tentang perlakuan terhadap perempuan?

Padahal sejarah membuktikan bahwa kerja sama yang baik antara laki-laki dan perempuan—dalam hal ini berarti suami dan istri—akan menghasilkan kesuksesan luar biasa. Banyak pemimpin-pemimpin di dunia yang berhasil karena peran istri mereka. Chiang Kai-shek tidak akan seperti Chiang Kai-shek tanpa Madame Chiang, begitu pula halnya Juan Peron tanpa Evita Peron. Kita pada akhirnya menyadari kekuatan seorang Hillary Clinton yang menopang kesuksesan Bill Clinton. Bahkan Soeharto pun tampak sangat cepat kehilangan tahtanya sepeninggal Ibu Tien.

Tapi tidak lantas perempuan minta posisi istimewa. Karena kesuksesan para perempuan tidak tercatat pada "profesi kelas atas" saja. Mungkin kita masih asing melihat perempuan menempati profesi-profesi tertentu yang tidak lazim dilakukan perempuan—profesi-profesi yang cukup "keras" misalnya. Tapi bukan berarti perempuan tidak sanggup melakukan pekerjaan seperti itu, semisal kondektur atau supir angkutan umum—karena memang ada perempuan yang berprofesi demikian di luar sana.

Saya tidak berusaha mengatakan bahwa kesetaraan gender itu hanya berarti perempuan bisa menjadi supir angkutan kota. Tapi esensi yang ingin saya tekankan adalah perempuan sesungguhnya memilki kapabilitas dan potensi untuk berprofesi di segala bidang yang ada, dan untuk itu hak memperoleh kesempatan untuk berprofesi pun seharusnya dimiliki perempuan, sama besarnya dengan kesempatan yang dimiliki laki-laki.

Kesetaraan gender tidak sama maknanya dengan kesamaan gender—karena perempuan dan laki-laki memang berbeda. Kesetaraan gender bukanlah menuntut bahwa perempuan harus mendapatkan semua yang didapatkan laki-laki, dan kemudian identik dengan women invasion—yang mungkin meresahkan kaum Adam selama ini.

Feminisme banyak mendapat kecaman karena dianggap melawan kodrat. Tapi mari kita renungkan baik-baik. Suatu gerakan hadir ketika ada suatu konstruksi dalam kehidupan yang dianggap merugikan atau tidak adil bagi sebagian pihak. Jika semuanya seimbang dan tidak memarjinalkan salah satu pihak, tentunya tidak akan lahir gerakan apapun.

Satu hal yang perlu dijaga adalah agar gerakan feminisme tidak kebablasan. Apa yang kita tuntut adalah hak-hak dasar seorang manusia yang sering kali bias, atas nama "kodrat wanita". Tapi perlu diingat, perempuan memang punya tugas-tugas istimewa yang menjadi kewajibannya—kewajiban seorang istri, kewajiban seorang ibu. Gerakan feminisme manapun tidak berhak untuk membenarkan perempuan lari dari kewajiban-kewajiban itu.

Satu hal yang penting adalah jangan campur-adukan itu semua dengan kesempatan perempuan untuk berkarya, mengembangkan diri, mendapatkan posisi dalam profesi tertentu, dan yang lebih penting lagi jangan jadikan itu alasan untuk dapat memojokan bahkan melakukan kekerasan terhadap perempuan.

Hari Perempuan Internasional sebentar lagi datang. Setidaknya ada satu pengakuan dan perhelatan yang dilakukan untuk meresapi makna perempuan—kalau memang tidak dianggap sekadar seremonial. Hari Perempuan ini sebenarnya sudah diusung sejak awal 1900 an, tapi diperingati secara universal sejak 30 tahun lalu. Marilah kita gunakan momen ini untuk kembali merenung tentang posisi perempuan dalam konstruksi masyarakat kita saat ini. Mampukah kita bercermin, memikirkan dan jika berani bergerak merekonstruksi apa yang ternyata menghimpit dan melukai perempuan? Mampukah kita?

[dikutip dari L2 penulisan artikel 2007]

 


There's no 'always forever'..just this..just this

[there is no if- the cure]

 

One day, i had a talk with achiel.. she told me a story about Red and Kitty (Eric's parent on that 70's show).. what we've been talking reminds me of something..

Achiel said,
    "Aku mah inget adegan waktu si Red ama si Kitty double date ama si Hyde ama Jacky (temennya Eric). Trus kan si Hyde mah balik lagi bawain minuman ama makanan ke dalem buat Jacky. Si Kitty teh sedih soalnya si Red mah enggak. Trus pas di rumah si Kitty teh pundung gitu, tapi akhirnya dia bilang ke si Red, knp kamu mah sekarang ga romantis lagi, gak kayak si Hyde ke Jacky.. 


   Trus sambil senyum si Red bilang,  'Oh Kitty, we've been there..'.. Tuh kan nat, 'we've been there' katanya, bukan 'we'll always be like that'. Jadi kayaknya, emang ada masanya buat suatu fase. Kalau udah lewat mah ya udah. Seiring waktu romance itu akan berlalu, dan emang begitu.." kata achiel..
    "Pas pacaran mah kemana2 gandengan, pas udah tua disentuh aja ga mau.. Pas pacaran duduk di angkot deket2an, pas udah suami istri, suaminya duduk di depan istrinya di belakang.. Itu knp dulu akumah ga percaya ama konsep perkawinan," si achiel melanjutkan..

Saya speechless.. berasa ga asing dengan smua pemikiran tadi.. berasa terketuk2 beberapa sekat dalam otak, 'hey, i know that thought!'.. 'asa wawuh euy!'..  Konsep awal saya itu.. sejak belasan tahun lalu—dan bertahan ckp lama..

Yah tapi kalau ditanya sekarang mah.. mmm mending jangan ditanya... hehe.. tapi yang pasti konsep tadi emang udah berubah seiring perkembangan, dan pada suatu titik ketika ada sebuah kansep baru yang ditawarkan.. saya akhirnya percaya pada si konsep baru ini.. entah knp, tdk sperti biasa2nya, saya dibuat percaya pada sebuah konsep baru, dan pd akhirnya saya sempat berpikir, 'hey, maybe marriage doesn't really scarry as it sound..'.. Maybe thre's some people who really able to fallin love everyday..

Tapi sekarang, sejujurnya yang terngiang2 di kepala saya cuma omongan si Red, 'we've been there, Kitty..'..   Ditambah lagi kata2nya Robert Smith, "There's no 'always forever'..just this..just this".. apa emang gitu..

nothing's real last forever..?

Posted at 07:21 pm by natanatanata
Comment (1)  

Friday, April 04, 2008
Aku tidak lagi peduli..

Aku tidak lagi peduli, apa yang terjadi sebenarnya..

Sesungguhnya aku sudah tidak peduli apa yang kamu bilang pada mereka, apa yang kamu bilang padaku, apa yang aku percayai menjadi kebenaran, dan apakah semua hal tadi sama atau tidak..

Seperti yang temanku bilang pagi ini, kebenaran selalu relatif..

But i know what i know.. And im not that naive.. I made a lot of scenario too, remember? I know a good retorica too.. So, i just wanna tell that i know the truth, i knew it.. and i can deal with it..

Dengan sedikit kenyang aku baca juga kabar yang masih menyebut namamu, pertanyaan yang menanyakanmu, pernyataan yang menginformasikan hal ttg kamu.. bahkan di pagi ini, ketika kupikir, sudahlah.. sudah jauh berlalu..

Kalau boleh memilih, aku mau--sama sekali--tidak lagi bicara apa apa tentang ini. apalagi tentang kamu.

Tapi yang seperti kita semua tau, makhluk sosial punya banyak tuntutan--tak tertulis--untuk melakukan hal hal semisal bercerita. Sekali mereka tau cerita di hulu, mereka mau tau cerita selama si air mengalir, atau kalau memang sudah sampai di hilir, bagaimana?

Ahh.. tak perlu lah aku rasa..

Untuk sekali dalam hidupku aku tidak ingin bercerita. Rayakan dengan gelas diangkat ke atas, bahwa akhirnya seseorang seperti aku ini tak ingin bercerita..

Tapi ternyata masih harus juga.. Hmm..

Ngomong2, aku lihat matahari kemarin sore. Cahaya yang benar benar cahaya. Jangan rusak lagi semua ini.. Karena aku sudah tau dan mengerti yang sebenarnya, sejak terakhir kali aku bilang 'aku mengerti'..  Tak perlu lagi pakai cerita cadangan yang lebih sempurna baik alur maupun keterangan waktu.. Atau bahkan retorika.. Aku mengerti dengan baik..

 

Posted at 02:11 pm by natanatanata
Make a comment  

Thursday, April 03, 2008
Hujan

cry

kapan hujannya benar2 berhenti?

Posted at 08:45 pm by natanatanata
Make a comment  

Wednesday, March 12, 2008
pengakuan

pengakuan

Life is weird.. weird it is, life...

Kau tak pernah tau bagaimana hal kecil yang tampak remeh bisa memperbaiki harimu dan perasaanmu. Begitu pula kau tak pernah tau hal-hal yang sangat penting bagimu ternyata bisa sangat mengecewakan. Intinya, tidak ada yang pasti dalam hidup. Tidak ada yang tetap.

Sepanjang hidup, kita selalu berusaha mempunyai kendali sebesar mungkin terhadap hari esok yang kita punya. Tapi tetap ada hal yang tidak kita tau. Tidak ada yang bisa memastikan apakah  yang terjadi besok sesuai dengan harapan kita atau tidak. Ini semua klise memang, tapi kita kadang lupa semua ini. Kita baru ingat ini, ketika kita merasa sangat kecewa pada sesuatu yang tidak berjalan sesuai harapan, baru kita bertanya-tanya, apa yang salah. Terlalu sibuk bertanya, kadang kita lupa rumus dasarnya. Things change. Human too. Segala hal yang berkenaan dengan manusia, tidak akan ada yang statis. Semua bergerak, semua berubah.


Saya--si penyuka zona nyaman--kadang lupa semua itu. Tapi saya bangun pagi ini dengan kenyataan, semua bergerak maju. Saya tidak bisa terus berromantika tentang indahnya masa muda, keriaan kampus dengan kawan-kawan tercinta, indahnya kota kelahiran ini dengan semua jejaring sosial yang sudah terajut sejak awal menjadi remaja hampir sepuluh tahun lalu, indahnya cerita-cerita yang menghiasi hati, sejak awal kenal rasa-rasa yang memercik sekitar hampir sepuluh tahun lalu pula hingga detik ini(semua yang penuh kejutan-kejutan yang naik turun semacam roler koster), indahnya semua hal-hal indah yang kadang tak rela untuk dimasukkan ke dalam laci memori begitu saja.


Tapi waktu tidak menunggu, waktu berjalan...


Masih ada lampu-lampu yang lebih menyilaukan mata di kota-kota yang lebih kejam di luar sana.  Tempat yang mungkin kau butuhkan sekadar untuk melihat di mana sebenarnya titik koordinat tempatmu akan berlabuh nanti entah berapa  tahun dari hari ini. Apakah kau pun akan berlabuh dan memulai perubahan dengan cara yang lain. Tidak lagi berpindah tempat tapi hanya bertransformasi. Tapi untuk saat ini, perlu rasanya berpindah, melihat dunia, menarik nafas yang menyejukkan. Saya sudah tak sabar...


Entah akan menjadi manusia seperti apa nanti saya bertransformasi, proses yang akan bicara. Apakah masih sesulit sekarang, lebih manusiawi, atau malahan tambah sulit. Maafkan, bagi semua yang tak pernah bisa memahami saya tapi saya paksa untuk mengerti, tanpa saya sadari. Beberapa memilih pergi untuk berhenti menyakiti dan disakiti, itu pilihan yang masuk akal memang. Ada juga yang kemudian malah mengencangkan tali kekangnya justru supaya saya berhenti menjadi seseorang yang sulit. Tapi tampaknya ia kian putus asa karena saya hanya menjadi semakin sulit, dan kami kian menyakiti hingga detik ini. 

Maafkan juga untuk semua yang sudah begitu sangat percaya kepada saya. Saya tau kalian selalu bertanya, kenapa saya tidak pernah bisa jujur pada hidup saya sendiri, sejujur ketika saya menceritakan kisah-kisah yang kalian anggap mencerahkan, lalu kalian terapkan pada kisah-kisah kalian, pecahkan masalah yang meresahkan hati kalian.
Sungguh, saya pun kadang ingin menjadi seperti apa yang selalu kalian bayangkan tentang saya. Tapi, saya mau bilang sekali lagi, sekali saja, saya tidak sehebat itu. Saya bahkan tidak hebat. Walaupun saya tau saya tidak seburuk dan sejahat sebagaimana papa selalu bilang. Tapi saya tidak selalu seperti apa yang saya citrakan (sadar atau tak sadar).

Maafkan saya untuk terus berkeras bahwa saya tidak pernah berusaha membranding diri, atau berusaha menampilkan citraan tertentu. Saya mungkin hanya memaksa diri saya sendiri untuk merasa lebih kuat. Dan bagi siapa saya yang merasa tidak lagi percaya pada apa yang telah mereka pikirkan tentang saya, saya tidak pernah bermaksud demikian. Saya memang tak pernah berusaha melakukannya. Mungkin terjadi begitu saja.

Maafkan saya pula bagi a n a t a, nama yang kadang terasa sangat asing ketika dilafalkan. Untuk memaksanya menjadi kuat, kadang memaksanya terlalu keras. Maaf untuk tidak pernah adil untuk mencukupi keingintahuanmu terhadap kesenangan, atau memberikanmu penghargaan seusai memaksamu berjuang, atau untuk memaksamu melupakan rasa aneh yang menyusup setiap kebohongan dari skenariomu sukses dilancarkan, saya tau kamu terluka untuk itu. Maafkan..

Posted at 11:13 pm by natanatanata
Comments (2)  

Wednesday, March 05, 2008
album wish the cure ayo diputar

album wish the cure ayo diputar

kiriman dari achilles:

 

hanya kenangan meliput senja,

mentari turun engkaupun pergi..

 

 

life is about learning how to let go what u can no longer hold..

Posted at 09:09 pm by natanatanata
Make a comment  

Next Page



natanatanata
July 8th
Female
Bandung
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30

s.e.u.t.a.s..p.u.k.a.t..s.o.p.h.i.a..<

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed